Kamis, 12 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERDARAHAN ANTEPARTUM



ASUHAN KEPERAWATAN

 
PADA PASIEN DENGAN
PERDARAHAN ANTEPARTUM














Oleh :
M. DAVID NUGROHO
0101433








AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2012


 
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami telah dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perdarahan Antepartum”, tujuan kami membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB serta menambah pengetahuan kami tentang keperawatan.
Meskipun kami telah berusaha segenap kemampuan, namun kami menyadari bahwa makalah kami belum sempurna. Oleh karena itu segala tegur sapa dan kritik yang diberikan akan kami sambut dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan datang.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberi nilai tambah bagi kami semua yang memanfaatkannya.


Ungaran,     Maret 2011
Penulis


ii
 

DAFTAR ISI

 
 

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang................................................................................. 1
B.      Tujuan............................................................................................... 1
BAB II     TINJAUAN KASUS
A.      Pengertian ........................................................................................ 3
B.      Etiologi ............................................................................................ 3
C.      Patofisiologi .................................................................................... 4
D.      Pathway............................................................................................ 6
E.       Tanda dan Gelaja............................................................................. 7
F.       Komplikasi....................................................................................... 8
G.      Penatalaksanaan............................................................................... 8
H.      Asuhan Keperawatan..................................................................... 10
I.         Diagnosa Keperawatan.................................................................. 13
J.         Intervensi........................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA


 




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.
( Mochtar, Rustam )
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.
( Rauf, Syahrul )
Ante Partum Bleeding (APB) adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya dari pada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu.
( Prawirohardjo, Sarwono )

B.     Tujuan
  1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum secara komprehensif.
  1. Tujuan Khusus
a.       Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan perdarahan antepartum
b.      Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum
c.       Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum.
d.      Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
e.       Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, pathway, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi, pemeriksaan penunjang pada pasien dengan perdarahan antepartum.


BAB II
TINJAUAN KASUS

A.      Pengertian
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.

B.       Etiologi
Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh :
1.      Bersumber dari kelainan plasenta
a.       Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri internal).
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 :
1)      Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.
2)      Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
3)      Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1)      Endometrium yang kurang baik
2)      Chorion leave yang peresisten
3)      Korpus luteum yang berreaksi lambat

b.      Solusi plasenta
Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu.
Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain :
1)      Solusi plasenta ringan
a)      Tanpa rasa sakit
b)      Pendarahan kurang 500cc
c)      Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
d)     Fibrinogen diatas 250 mg %
2)      Solusi plasenta sedang
a)      Bagian janin masih teraba
b)      Perdarahan antara 500 – 1000 cc
c)      Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian
3)      Solusi plasenta berat
a)      Abdomen nyeri-palpasi janin sukar
b)      Janin telah meninggal
c)      Plasenta lepas diatas 2/3 bagian
d)     Terjadi gangguan pembekuan darah
2.      Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begtu berbahaya, misalnya kelainan serviks dan vagina (erosion, polip, varises yang pecah).

C.      Patofisiologi
  1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
  1. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.


D.      Pathway


E.       Tanda dan Gelaja
  1. Plasenta previa
a.       Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b.      Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R
c.       Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
d.      Perdarahan berwarna merah segar
e.       Letak janin abnormal
  1. Solusi plasenta
a.       Perdarahan disertai rasa sakit
b.      Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
c.       Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
d.      Abdomen menjadi tegang
e.       Perdarahan berwarna kehitaman
f.       Sakit perut terus menerus
F.       Komplikasi
  1. Plasenta previa
a.       Prolaps tali pusat
b.      Prolaps plasenta
c.       Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan
d.      Robekan-robekan jalan lahir
e.       Perdarahan post partum
f.       Infeksi karena perdarahan yang banyak
g.      Bayi prematuritas atau kelahiran mati
  1. Solusi plasenta
a.       Langsung
1)      Perdarahan
2)      Infeksi
3)      Emboli dan obstetrik syok

b.      Komplikasi tidak langsung
1)      Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post partum
2)      Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum
3)      Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia
4)      Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofise dll.

G.      Penatalaksanaan
  1. Plasenta previa
a.       Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal)
b.      Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup, belum inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Berikan obat-obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti.
c.       Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature.
d.      Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada.
e.       Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan.
  1. Solusio plasenta
a.       Terapi konsrvatif
Prinsip :
1)      Tunggu sampai perdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan
2)      Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama, bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek.
3)      Sambil menunggu atau mengawasi berikan :
a)      Morphin suntikan subkutan
b)      Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine, cardizol, dan pentazol.
c)      Tranfuse darah.
b.      Terapi aktif
Prinsif :
Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti.
Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta :
1)      Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan.
2)      Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks.
3)      Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap, kepala sudah turun sampai hodge III-IV :
a)      Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps.
b)      Janin meninggal : lakukan embriotomi
  1. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan :
a.       Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
b.      Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, pembukaan masih kecil.
c.       Solusio plasenta dengan panggul sempit.
d.      Solusio plasenta dengan letak lintang
  1. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan :
a.       Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.
b.      Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik.
  1. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan.

  1. Pada hipofibrinogenemia berikan :
a.       Darah segar beberapa botol
b.      Plasma darah
c.       Fibrinogen

H.      Asuhan Keperawatan
  1. Data Subjektif
a.       Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
b.      Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.
c.       Riwayat kesehatan yang lalu
d.      Riwayat kehamilan
1)      Haid terakhir
2)      Keluhan
3)      Imunisasi
e.       Riwayat keluarga
1)      Riwayat penyakit ringan
2)      Penyakit berat
3)      Keadaan psikososial
4)      Dukungan keluarga
5)      Pandangan terhadap kehamilan
f.       Riwayat persalinan
g.      Riwayat menstruasi
1)      Haid pertama
2)      Sirkulasi haid
3)      Lamanya haid
4)      Banyaknya darah haid
5)      Nyeri
6)      Haid terakhir
h.      Riwayat perkawinan
1)      Status perkawinan
2)      Kawin pertama
3)      Lama kawin
  1. Data Objektif
Pemeriksaan fisik
a.       Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
1)      Rambut dan kulit
a)      Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b)      Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c)      Laju pertumbuhan rambut berkurang.
2)      Wajah
a)      Mata : pucat, anemis
b)      Hidung
c)      Gigi dan mulut
3)      Leher
4)      Buah dada / payudara
a)      Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b)      Bertambahnya ukuran dan noduler
5)      Jantung dan paru
a)      Volume darah meningkat
b)      Peningkatan frekuensi nadi
c)      Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
d)     Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e)      Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
f)       Diafragma meningga.
g)      Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

6)      Abdomen
Palpasi abdomen :
a)      Menentukan letak janin
b)      Menentukan tinggi fundus uteri
7)      Vagina
a)      Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick )
b)      Hipertropi epithelium
8)      System musculoskeletal
a)      Persendian tulang pinggul yang mengendur
b)      Gaya berjalan yang canggung
c)      Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal

  1. Khusus
a.       Tinggi fundus uteri
b.      Posisi dan persentasi janin
c.       Panggul dan janin lahir
d.      Denyut jantung janin
  1. Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan inspekulo
b.      Pemeriksaan radio isotopic
c.       Ultrasonografi
d.      Pemeriksaan dalam

I.         Diagnosa Keperawatan:
  1. Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
  2. Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan terlepasnya placenta.
  3. Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
  4. Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
  5. Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah.

J.        Intervensi:
1.      Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Kaji tentang banyaknya pengeluaran caiaran (perdarahan).
b.      Observasi tanda-tanda vital.
c.       Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
d.      Pantau kadar elektrolit darah.
e.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
f.       Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.
g.      Kolaborasi dengan dokter sehubungan dengan letak placenta.

2.      Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan terlepasnya placenta.
a.       Observasi tanda-tanda vital.
b.      Monitor perdarahan dan status janin.
c.       Pertahankan hidrasi.
d.      Pertahankan tirah baring.
e.       Persiapkan untuk section caesaria .
3.      Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Observasi tanda-tanda terjadinya shock hipolemik.
b.      Kaji tentang banyaknya pengeluaran cairan (perdarahan).
c.       Observasi tanda-tanda vital.
d.      Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
e.       Pantau kadar elektrolit darah.
f.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
g.      Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.

4.      Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
a.       Berikan penjelasan tentang pentingnya personal hygiene
b.      Berikan motivasi untuk tetap menjaga personal hygiene tanpa melakukan aktivitas yang berlebihan
c.       Beri sarana penunjang atau mandikan klien bila klien masih harus bedrest
5.      Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah..
a.       Beri dukungan dan pendidikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan pemahaman dan kerja sama dengan tetap memberikan informasi tentang status janin, mendengar dengan penuh perhatian, mempertahankan kontak mata dan berkomunikasi dengan tenang, hangat dan empati yang tepat.
b.      Pertahankan hubungan saling percaya dengan komunikasi terbuka. Hubungan rasa saling percaya terjalin antara perawat dan klien akan membuat klien mudah mengungkapkan perasaannya dan mau bekerja sama.
c.       Jelaskan tentang proses perawatan dan prognosa penyakit secara bertahap. Dengan mengerti tentang proses perawatan dan prognosa penyakit akan memberikan rasa tenang.


DAFTAR PUSTAKA

 
 

Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset.
Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka
Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika
Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC
Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi
Jakarta : EGC
Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yayasan
Esentia Medika
Heller, Luz 1991. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC




Askep SINDROMA NEFROTIK


SINDROMA NEFROTIK




 



Oleh :
M. DAVID NUGROHO
0101433









AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2011

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami telah dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Sindroma Nefrotik”, tujuan kami membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Anak serta menambah pengetahuan kami tentang keperawatan.
Meskipun kami telah berusaha segenap kemampuan, namun kami menyadari bahwa makalah kami belum sempurna. Oleh karena itu segala tegur sapa dan kritik yang diberikan akan kami sambut dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan datang.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberi nilai tambah bagi kami semua yang memanfaatkannya.

Ungaran,   Maret         2011

Penulis















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala klinis yang timbul dari kehilangan protein karena kerusakan glomerulus yang difus.
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.
Penyebab penyakit sindroma nefrotik ini sampai sekarang belum diketahui, namun akhir-akhir ini sindroma nefrotik dianggap sebagai penyakit autoimun. Jadi merupakan reaksi antigen antibodi, yang pada umumnya para ahli mengelompokkan etiologinya sesuai dengan jenis sindroma nefrotik yaitu sindroma nefrotik karena bawaan, sindroma nefrotik sekunder, da sindroma nefrotik kongenital,
Adapun tanda sindroma nefrotik yaitu terdapat oedema umum terutama pada muka dan daerah periorbital, tanda umumnya yaitu anak anoreksia, mual dan muntah, adanya diare, anemia, hiperlipidemia yang dpat berkomplikasi pada perkemiahan yaitu lipid uria.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan sindroma nefrotik secara komprehensif.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui definisi dari sindroma nefrotik.
b.      Mengetahui etiologi dari sindroma nefrotik
c.       Mengetahui tanda dan gejala dari sindroma nefrotik.
d.      Mengetahui patofisiologi dan pathway sindroma nefrotik.
e.       Mengetahui komplikasi dari sindroma nefrotik.
f.       Mengetahui penatalaksanaan pada anak dengan sindrima nefrotik
BAB II
TINJAUAN TEORI



A.    DEFINISI
Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma yang menimbulkan proteinuria hipoalbumin, hiper lipida dan edema. ( Betz : 2002 ; 233 ).
 Sindrom nefrotik adalah gangguan disfungsional ginjal tanpa disertai peradangan biasa terjadi pada usia anak 2-4 tahun.( Tucker : 2001 ; 975 ).
Adanya injuri pada glomerular biasanya diikuti adanya :
·         Proteinuria
·         Hypoalbuminemia
·         Hyperlipemia
·         Edema
·         Peningkatan permiabilitas glomerular terhadap protein plasma àkehilangan.
·         Proteinuria >>

B.     ETIOLOGI

Menurut suriadi ( 2001 : 218-219 ) syndrome nefrotik disebabkan oleh :
v Timbul setelah kerusakan glomerulus akibat ( systemic lupus erythematous, diabetes mellitus, skle cell  disease )
v Respon alergi, glomerulusnepritis, yang berkaitan dengan respon imun      ( abnormal imunoglobilin )
v Sindrom nefrotik bawaan
Resistem terhadap semua pengobatan .
Gejala; Edema pada masa neonatus. Pengjangkokan ginjal dalam masa neonates
telah dicoba tapi tidak berhasil .
prognosis infaust dalam bulan-bulan pertama.
v Sindrom nefrotik sekunder
Yang disebabkan oleh ;
a.       Malaria kuartana atau parasit lain
b.      Penyakit kolagen seperti ; disseminated lupus erythhematosus;.anaphylactoid purpura.
c.       Glomerunefritis akut atau glomerulonefritis kronik dan trombosis vena renalis.
d.      Bahan kimia : Trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, senagatan lebah, poison oak, air raksa.
e.       Amiloidosis, sick sell disease, hiperprolonemia
v Sindrom nefrotik idiopatik ( tidak diketahui sebabnya )
Gambaran klinik : Edema merupakan klinik yang menonjol, kadang-kadang 40% dari berat badan. Pada keadaan anasarka terdapat asites, hidrothoraks, edema scrotum. Penderita sangat rentang terhadap infeksi skunder. Selama beberapa minggu terdapat haem aturia, asotemia dan hipertensi ringan.

C.    PATOFISIOLOGI

Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerulus akan berakibat pada hilangnya protein plasma dan akan terjadi proteinuria, kelanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbumin. Dengan menurunnya albumin, tekanan osmotic plasma menurun sehingga cairan intravaskular berpindah kedalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskular berkurang, sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hipovolemia. Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan merangsang produksi renin angiotensin dan peningkatan sekresi ADH serta aldosteron sehingga terjadi retensi natrium, air dan menjadi udem. Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulasi produksi lipoprotein dan lemak akan banyak dalam urine. Menurunnya respon imun kaena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh hipoalbumin, hiperlipidemia, dan defisiensi zat Zn ( Suriadi : 2001 ; 217 ).

D.    PATHWAY

IMAGE0016
IMAGE0015

E.     MANIFESTASI KLINIS

Menurut Suriadi ( 2001 : 219 ) tanda dan gejala dari syndrome nefrotik adalah edema periorbital dan tergantung pada ‘ pitting’ edema pada muka, berlanjut ke abdomen serta genital dan extremitas, anureksia, fatigue, nyeri abdomen, berat badan meningkat.
·         Berat badan meningkat
·         Pembengkakan pada wajah, terutama disekitar mata
·         Edema anasarka
·         Pembengkakan pada labia / skotum
·         Asites
·         Diare, nafsu makan menurun, absorbsi usus menurun à edema pada mukosa usus
·         Volume urine menurun, kadang – kadang berwarna pekat dan berbusa
·         Kulit pucat
·         Anak menjadi iritabel, mudah lelah / letargi
·         Celulitis, pneumonia, peritonitis atau adanya sepsis
·         Azotemia
·         TD biasanya normal / naik sedikit

F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dari syndrome nefrotik meliputi tanda klinis pada anak, riwayat infeksi saluran nafas atas, analisa urine yaitu meningkatnya protein dalam urine, menurunnya serum protein dan biopsy ginjal ( Suriadi : 2001 ; 219 ). Menurut Tucker ( 2001 : 975 ) pengkajian pada sindrom nefrotik meliputi edema, oliguria, urine gelap dan berbusa, berat badan bertambah, wajah bengkak, anureksia, lesu, peka terhadap rangsang, asites, diare, muntah, pucat atau dengan tanpa anemia, penurunan kemampuan aktivitas.



G.    PENATALAKSAAN

v Medis
Menurut Ngastiyah ( 1997 ; 306-307 ) penatalaksanaan medis meliputi istirahat sampai edema tinggal sedikit, diet tinggi
protein sebanyak 2-3 gr/Kg/BB dengan garam minimal bila edema masih sedikit, mencegah infeksi, diuretic, kortikosteroid, antibiotik bila ada tanda-tanda infeksi.
v Keperawatan
Menurut Ngastiyah ( 1997 : 307 ) pasien dengan syndrome nefrotik perlu dirawat di rumah sakit karena memerlukan pengawasan dan pengobatana khusus. Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah edema yang berat, diet, resiko terjadi komplikasi, pengawasan mengenai pengobatan/ganguan rasa nyaman adan aman, serta kurang pengetahuan mengenai penyakit/umum.

H.    FOKUS PENGKAJIAN

Menurut Suriadi ( 2001 : 209 ) pengkajian meliputi riwayat perawatan edema , tanda- tanda vital, deteksi dini hipovolemia, status hidrasi, monitor hasil laboratorium dan pantau urine setiap hari ( adanya proteinuria ), dan pengetahuan keluarga.
Menurut Tucker ( 2001 : 975 ) pengkajian pada syndrome nefrotik meliputi proteinuria terutama albumin, serpihan sel darah merah, peningkatan berat jenis urine, tes klierens kreatinin normal serta darah yaitu hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan natrium.

I.       MANAGEMENT TERAPEUTIK
1.      Mengurangi eksresi protein dalam urine dan mempertahankan urine terbatas dari protein
2.      Mencegah infeksi akut
3.      Mengontrol edem
4.      Meningkatkan nutrisi
5.      Mengembalikan penyesuaian dari gangguan proses metabolik
J.      TINDAKAN UMUM
1.      Prisipnya supportive
2.      Anak dipertahankan dalam keadaan bed rest namun aktivitasnya tidak dibatasi pada fase remesi
3.      Infeksi akut à dengan pemberian antibiotik yang sesuai
4.      Memberikan diet yang sesuai  à membatasi garam
5.      Intake tinggi proteindikurangi à gagal ginjal & azotemia
6.      Terapi kortikosteroid :
·         Dimulai dini pada saat anak didiognosis NS
·         Pemberian secara oral dalam dosis 2 mg/kg BB à = 10 hari – 2 mgg sampai urine bebas dari protein
·         Perhatikan Es yang terjadi seperti Growth Retardation, katarak, obesitas, hypertensi, perdarahan GI, infeksi
7.      Terapi imunosupresant
·         Memungkinkan mengurangi relaps dan memberikan tahap remisi dalam jangka waktu yang lama
·         Misalnya pemberian cyclophos phamide yang digabung dengan prednison à 2-3 bl
8.      Pemberian diuretic
·         Furosemid yang dikombinasi dengan metolazone
·         Plasma expander seperti “ salt poor human albumin “

K.    PROGNOSIS  :
1.      Tergantung pada respon anak pada terapi steroid
2.      Kerusakkan dapat diminimalkan bila deteksi dini dan tindakan yang cepat dan terapi untuk menghilangkan proteinuria
3.      80 % anak mempunyai pronosis yang baik





DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2003. Medical Surgical Nursing (Perawatan Medikal Bedah), alih bahasa: Monica Ester. Jakarta : EGC.

Carpenito, L. J.1999. Hand Book of Nursing (Buku Saku Diagnosa Keperawatan), alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilyinn E, Mary Frances Moorhouse. 2000. Nursing Care Plan:
Guidelines for Planning and Documenting Patient Care (Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), alih bahasa: I Made Kariasa. Jakarta: EGC.

Donna L, Wong. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Anak, alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC.

Husein A Latas. 2002. Buku Ajar Nefrologi. Jakarta: EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Price A & Wilson L. 1995. Pathofisiology Clinical Concept of Disease Process (Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit), alih bahasa: Dr. Peter Anugrah. Jakarta: EGC.

PERAWAT Malaikat Tak Bersayap

apakabar sahabat ikhlasku hari ini, saya belajar dari porfesi yang sangat mulia. PERAWAT   saya tahu diantara dari mereka memilih pro...