Tampilkan postingan dengan label Maternitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maternitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

SAP Hipertensi Dalam Kehamilan

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PRE EKLAMPSIA
 SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Topik Penyuluhan             :      PRE EKLAMPSIA
Pokok Bahasan                 :      Pencegahan dan Penatalaksanaan
PreEklampsia pada Ibu Hamil
Sasaran                          :      Warga Ibu hamil di Kelurahan Ngudi Waras
Tempat                          :      Balai Desa Kelurahan Ngudi Waras
Tanggal                          :      08 Februari 2013
Waktu                            :      Pukul 16.00 WIB
Penyuluh                    :      M. David Nugroho (Mahasiswa Keperawatan Ngudi Waluyo)


A.    Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah  mengikuti  penyuluhan  tentang Tanda Ganguan KehamilanPada Trimester III diharapkan peserta dapat memahami dan mampu mencegah terjadinya gangguan kehamilan terutama pada trimester ke III.

B.      Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah mendapatkan penyuluhan peserta mampu :
1.      Peserta dapat menjelaskan tentang apa itu Preeklampsia dan klasifikasinya.
2.      Peserta dapat menyebutkan faktor penyebab terjadinya Preeklampsia.
3.      Peserta mampu mengidentifikasi tanda dan gejala-gejala awal dari Preeklampsia.
4.      Peserta dapat menjelaskan proses terjadinya Preeklampsia.
5.      Peserta mampu menyebutkan faktor resiko terjadinya Pre eklampsia.
6.      Peserta mampu menyebutkan pengaruh/komplikasi akibat dari Preeklampsia.
7.      Peserta dapat menjelaskan pencegahan awal yang bisa dilakukan sampai penanganan dari Preeklampsia.

C.    Metode
Penyuluhan dilakukan dengan cara :
1.      Ceramah
2.      Tanya jawab
3.      Diskusi
Penyuluh menjelaskan tentang materi yang dibawakan dan memberikan kesempatan bertanya pada peserta dan mendiskusikannya.

D.    Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan antara lain :
1.      LCD
2.      Laptop
3.      Pengeras suara
4.      Leaflet

E.      Materi Penyuluhan
1.      Pengertian dan klasifikasi Pre Eklampsia.
2.      Penyebab terjadinya Pre Eklampsia.
3.      Tanda dan Gejala Pre Eklampsia.
4.      Proses Terjadinya Pre Eklampsia.
5.      Akibat lanjut/komplikasi yang terjadi bila tidak ditangani.
6.      Upaya Pencegahan dan Penanggulangan terhadap Pre Eklampsia.


F.      Kegiatan Belajar Mengajar
Ø  Pelaksana  ( mahasiswa )
1.      Pembukaan
a.     Menyiapkan diri
b.     Mengucapkan salam pembuka
c.     Menyampaikan tujuan
2.      Penyampaian materi
a.     Menjelaskan Pengertian Pre Eklampsia.
b.     Menjelaskan Penyebab Pre Eklampsia.
c.     Menjelaskan Perjalanan Penyakit Pre Eklampsia.
d.     Menjelaskan Tanda dan Gejala Pre Eklampsia.
e.     Menyebutkan faktor resiko terjadinya Pre Eklampsia.
f.        Menjelaskan upaya Pencegahan dan penanggulangan Pre Eklampsia.
g.     Menjelaskan Akibat lanjut bila tidak ditangani.
3.      Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya.
4.      Menjawab pertanyaan yang diajukan peserta.
5.      Penutup
a.     Menyimpulkan topic diskusi bersama-sama.
b.     Evaluasi
c.     Memberikan reinforcement positip terhadap jawaban yang diberikan oleh sasaran (peserta).
d.     Menutup acara dengan mengucapkan salam penutup.

Ø  Sasaran (klien dan keluarga)
1.      Menyiapkan diri tempat dan waktu.
2.      Menjawab salam pembuka.
3.      Mendengarkan materi yang disampaikan.
4.      Mengajukan pertanyaan.
5.      Menjawab pertanyaan (evaluasi/post test) dengan baik dan benar.
6.      Menjawab salam penutup.

G.   Kriteria evaluasi
1.       Evaluasi stuktur
Alat – alat penyuluhan berupa leaflet tentang Typoid tersedia sebelum dilakukan penyuluhan dan peserta hadir mengikuti penyuluhan
2.       Evaluasi proses
Waktu penyuluhan dimulai pukul 16.00 WIB dan berakhir pukul 16.40 WIB, klien mendengarkan dan menyampaikan pertanyaan tentang Pre Eklampsia.
3.       Evaluasi hasil
Setelah dilakukan tindakan penyuluhan kesehatan, peserta dapat mencapai kriteria tujuan khusus dari penyuluhan ini.


MATERI PENYULUHAN
PRE EKLAMPSIA

A.  Apa itu Pre Eklampsia ?
Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema, tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih.
Pre Eklampsia Dibagi dalam 2 golongan :
1.    Pre Eklampsia ringan, bila keadaan sebagai berikut :
a.    Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.
b.    Edema umum, kaki, jari tangan dan muka, atau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih perminggu.
c.    Proteinuria kwantitatif 0,3 gr atau lebih perliter, kwalitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream untuk pemeriksaan laboratorium.
2.    Pre Eklampsia berat, bila keadaan sebagai berikut :
a.     Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b.     Proteinuria 5 gr atau lebih perliter.
c.     Oliguria, jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
d.     Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan rasa nyeri di epigastrium.
e.     Ada edema paru dan sianosis.

B.  Apa penyebab terjadinya Pre Eklampsia ?
Pre Eklampsia dulu dikenal sebagai Toksemia, karna diperkirakan adanya racun di dalam darah ibu hamil. Meski teori ini sudah dibantah, tetapi penyebab pre-eklamsia hingga kini belum diketahui. Penyebab lain yang diperkirakan terjadi, adalah :
1.Kelainan aliran darah menuju rahim.
2.Kerusakan pembuluh darah.
3.Masalah dengan sistim ketahanan tubuh.
4.Diet atau konsumsi makanan yang salah.

C.  Apa saja tanda dan gejala terjadinya Pre Eklampsia ?
Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala – gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan gejala sebagai berikut :
1.      sakit kepala di daerah prontal.
2.      diplopia, penglihatan kabur, dan lebih sensitif pada cahaya silau.
3.      nyeri di daerah epigastrium.
4.      mual atau muntah.
Gejala – gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul.

D. Bagaimana proses terjadinya Pre Eklampsia ?
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Perubahan pada organ-organ :
1.     Perubahan pada otak
Pada pre-eklampsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklampsia, resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Edema terjadi pada otak yang dapat menimbulkan kelainan serebral dan kelainan pada visus. Bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.
2.     Perubahan pada janin dan rahim
Aliran darah menurun ke plasenta menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-eklampsia dan eklampsi sering terjadi bahwa tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan meningkat maka terjadilah partus prematurus.
3.     Perubahan pada ginjal
Filtrasi glomerulus berkurang oleh karena aliran ke ginjal kurang. Hal ini menyebabkan filfrasi natrium melalui glomerulus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.
4.     Perubahan pada paru-paru
Kematian wanita pada pre-eklampsi dan eklampsi biasanya disebabkan oleh edema paru. Ini disebabkan oleh adanya dekompensasi kordis. Bisa pula karena terjadinya aspires pnemonia. Kadang-kadang ditemukan abses paru.
5.     Perubahan pada mata
Dapat ditemukan adanya edema retina spasmus pembuluh darah. Bila ini dijumpai adalah sebagai tanda pre-eklampsi berat. Pada eklampsi dapat terjadi ablasio retinae, disebabkan edema intra-okuler dan hal ini adalah penderita berat yang merupakan salah satu indikasi untuk terminasi kehamilan. Suatu gejala lain yang dapat menunjukkan arah atau tanda dari pre-eklampsi berat akan terjadi eklampsi adalah adanya: skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau dalam retina.
6.     Perubahan pada keseimbangan air dan elektrolit
Pada pre-eklampsi ringan biasanya tidak dijumpai perubahan nyata pada metabolisme air, elektrolit, kristaloid dan protein serum. Dan tidak terjadi ketidakseimbangan elektrolit. Gula darah, bikarbonas natrikus dan pH normal. Pada pre-eklampsi berat dan pada eklampsi : kadar gula darah naik sementara asam laktat dan asam organik lainnya naik sehingga cadangan alkali akan turun. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. Setelah konvulsi selesai zat-zat organik dioksidasi sehingga natrium dilepas lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk bikarbonas natrikus. Dengan begitu cadangan alkali dapat kembali pulih normal.  
E.  Apa saja faktor resiko terjadinya Pre Eklampsia ?
Preeklampsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah :
1.       Riwayat tekanan darah tinggi yang khronis sebelum kehamilan.
2.                 Riwayat mengalami preeklampsia sebelumnya.
3.                 Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan.
4.                 Kegemukan/obesitas.
5.                 Mengandung lebih dari satu orang bayi.
6.                 Riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid arthritis.
F.  Apa akibat lanjut/komplikasi yang terjadi bila Pre Eklampsia tidak segera ditangani ?
1.      Berkurangnya aliran darah menuju plasenta.
Preeklamsia akan mempengaruhi pembuluh arteri yang membawa darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat kurang.
2.      preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan.
3.      Lepasnya plasenta.
Preeklamsia meningkatkan risiko lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum lahir, sehingga terjadi pendarahan dan dapat mengancam bayi maupun ibunya.
4.      Sindrom HELLP
HELLP adalah singkatan dari Hemolysis (perusakan sel darah merah), Elevated liver enzym dan low platelet count (meningkatnya kadar enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah). Gejalanya, pening dan muntah, sakit kepala serta nyeri perut atas.
5.      Eklampsia
Jika preklamsia tidak terkontrol, maka akan terjadi eklamsia. Eklamsia dapat mengakibatkan kerusakan permanen organ tubuh ibu, seperti otak, hati atau ginjal. Eklamsia berat menyebabkan ibu mengalami koma, kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin maupun ibunya.

G.  Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan Pre Eklampsia ?
Ø  PENCEGAHAN
1.      Diet yang tepat dan sesuai.
Karena penyebab pastinya belum diketahui, maka pencegahan utama yang baik adalah meminta ibu hamil untuk mengurangi konsumsi garam, meski dianggap tidak efektif menurunkan risiko preeklamsia. Diet yang dianjurkan cukup protein, rendah karbohidraat, lemak dan garam.
2.      Periksalah kehamilan secara teratur, untuk mengetahui kondisi ibu dan janin. Preklamsia yang terdiagnosa lebih awal, akan memudahkan dokter menyarankan terapi yang tepat untuk ibu dan janinnya.
Sebuah penelitian di tahun 2006, lebih dari 70 persen wanita yang mengkonsumsi multivitamin dan menjaga berat tubuh sebelum hamil terbukti risiko terkena preeklamsianya lebih rendah. Suplemen nutrisi ditengarai mampu menurunkan risiko terkena preeklamsia, tapi Anda harus sangat selektif. Konsultasikan pada dokter, sebelum mengkonsumsi suplemen di saat hamil.
3.      Perbanyak minum
Sangat dianjurkan ibu hamil untuk minum dalam jumlah yang banyak tiap hari. Minuman yang baik adalah air putih, karna air akan mendorong garam ke luar tubuh. Dengan banyak minum akan membuat lebih sering ke toilet sehingga dapat membawa kelebihan garam bias terbawa keluar, selain itu juga mengurangi aktivitas. Minimal minum 2 liter per hari.

Ø  PENANGGULANGAN
Satu-satunya cara  yang pling tepat untuk menangulangi Pre Eklampsia pada akhir kehamilan adalah dengan mempercepat persalinan, tapi pada preeklamsia di awal kehamilan, yang bisa dilakukan adalah antara lain :
1.      Bed rest
Mengulur waktu kelahiran bayi dengan istirahat total agar tekanan darah turun dan meningkatkan aliran darah menuju plasenta, agar bayi dapat bertahan. Dianjurkan untuk berbaring total dan hanya diperbolehkan duduk atau berdiri jika memang benar-benar diperlukan.Istirahat total berarti berbaring di tempat tidur. Sebaiknya berbaring ke sisi sebelah kiri untuk meningkatkan aliran darah pada janin.


2.      Pengobatan sesuai anjuran Dokter
Obat yang biasa direkomendasikan yaitu pemakaian obat penurun tekanan darah. Pada preklamsia parah dan sindroma HELLP, obat corticosteroid dapat memperbaiki fungsi hati dan sel darah. Obat ini juga dapat membantu paru-paru bayi tumbuh bila harus terjadi kelahiran prematur.
3.      Melahirkan
Ini adalah cara terakhir mengatasi preeklamsia. Pada preklamsia akut/parah, dokter akan menganjurkan kelahiran prematur untuk mencegah yang terburuk. Kelahiran ini juga diperlukan kondisi minimal, seperti kesiapan tubuh ibu dan kondisi janin.

Kamis, 12 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERDARAHAN ANTEPARTUM



ASUHAN KEPERAWATAN

 
PADA PASIEN DENGAN
PERDARAHAN ANTEPARTUM














Oleh :
M. DAVID NUGROHO
0101433








AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2012


 
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami telah dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perdarahan Antepartum”, tujuan kami membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB serta menambah pengetahuan kami tentang keperawatan.
Meskipun kami telah berusaha segenap kemampuan, namun kami menyadari bahwa makalah kami belum sempurna. Oleh karena itu segala tegur sapa dan kritik yang diberikan akan kami sambut dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan datang.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberi nilai tambah bagi kami semua yang memanfaatkannya.


Ungaran,     Maret 2011
Penulis


ii
 

DAFTAR ISI

 
 

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang................................................................................. 1
B.      Tujuan............................................................................................... 1
BAB II     TINJAUAN KASUS
A.      Pengertian ........................................................................................ 3
B.      Etiologi ............................................................................................ 3
C.      Patofisiologi .................................................................................... 4
D.      Pathway............................................................................................ 6
E.       Tanda dan Gelaja............................................................................. 7
F.       Komplikasi....................................................................................... 8
G.      Penatalaksanaan............................................................................... 8
H.      Asuhan Keperawatan..................................................................... 10
I.         Diagnosa Keperawatan.................................................................. 13
J.         Intervensi........................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA


 




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.
( Mochtar, Rustam )
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.
( Rauf, Syahrul )
Ante Partum Bleeding (APB) adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya dari pada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu.
( Prawirohardjo, Sarwono )

B.     Tujuan
  1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum secara komprehensif.
  1. Tujuan Khusus
a.       Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan perdarahan antepartum
b.      Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum
c.       Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum.
d.      Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
e.       Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, pathway, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi, pemeriksaan penunjang pada pasien dengan perdarahan antepartum.


BAB II
TINJAUAN KASUS

A.      Pengertian
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.

B.       Etiologi
Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh :
1.      Bersumber dari kelainan plasenta
a.       Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri internal).
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 :
1)      Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.
2)      Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
3)      Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1)      Endometrium yang kurang baik
2)      Chorion leave yang peresisten
3)      Korpus luteum yang berreaksi lambat

b.      Solusi plasenta
Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu.
Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain :
1)      Solusi plasenta ringan
a)      Tanpa rasa sakit
b)      Pendarahan kurang 500cc
c)      Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
d)     Fibrinogen diatas 250 mg %
2)      Solusi plasenta sedang
a)      Bagian janin masih teraba
b)      Perdarahan antara 500 – 1000 cc
c)      Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian
3)      Solusi plasenta berat
a)      Abdomen nyeri-palpasi janin sukar
b)      Janin telah meninggal
c)      Plasenta lepas diatas 2/3 bagian
d)     Terjadi gangguan pembekuan darah
2.      Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begtu berbahaya, misalnya kelainan serviks dan vagina (erosion, polip, varises yang pecah).

C.      Patofisiologi
  1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
  1. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.


D.      Pathway


E.       Tanda dan Gelaja
  1. Plasenta previa
a.       Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b.      Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R
c.       Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
d.      Perdarahan berwarna merah segar
e.       Letak janin abnormal
  1. Solusi plasenta
a.       Perdarahan disertai rasa sakit
b.      Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
c.       Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
d.      Abdomen menjadi tegang
e.       Perdarahan berwarna kehitaman
f.       Sakit perut terus menerus
F.       Komplikasi
  1. Plasenta previa
a.       Prolaps tali pusat
b.      Prolaps plasenta
c.       Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan
d.      Robekan-robekan jalan lahir
e.       Perdarahan post partum
f.       Infeksi karena perdarahan yang banyak
g.      Bayi prematuritas atau kelahiran mati
  1. Solusi plasenta
a.       Langsung
1)      Perdarahan
2)      Infeksi
3)      Emboli dan obstetrik syok

b.      Komplikasi tidak langsung
1)      Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post partum
2)      Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum
3)      Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia
4)      Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofise dll.

G.      Penatalaksanaan
  1. Plasenta previa
a.       Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal)
b.      Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup, belum inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Berikan obat-obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti.
c.       Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature.
d.      Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada.
e.       Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan.
  1. Solusio plasenta
a.       Terapi konsrvatif
Prinsip :
1)      Tunggu sampai perdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan
2)      Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama, bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek.
3)      Sambil menunggu atau mengawasi berikan :
a)      Morphin suntikan subkutan
b)      Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine, cardizol, dan pentazol.
c)      Tranfuse darah.
b.      Terapi aktif
Prinsif :
Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti.
Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta :
1)      Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan.
2)      Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks.
3)      Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap, kepala sudah turun sampai hodge III-IV :
a)      Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps.
b)      Janin meninggal : lakukan embriotomi
  1. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan :
a.       Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
b.      Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, pembukaan masih kecil.
c.       Solusio plasenta dengan panggul sempit.
d.      Solusio plasenta dengan letak lintang
  1. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan :
a.       Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.
b.      Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik.
  1. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan.

  1. Pada hipofibrinogenemia berikan :
a.       Darah segar beberapa botol
b.      Plasma darah
c.       Fibrinogen

H.      Asuhan Keperawatan
  1. Data Subjektif
a.       Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
b.      Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.
c.       Riwayat kesehatan yang lalu
d.      Riwayat kehamilan
1)      Haid terakhir
2)      Keluhan
3)      Imunisasi
e.       Riwayat keluarga
1)      Riwayat penyakit ringan
2)      Penyakit berat
3)      Keadaan psikososial
4)      Dukungan keluarga
5)      Pandangan terhadap kehamilan
f.       Riwayat persalinan
g.      Riwayat menstruasi
1)      Haid pertama
2)      Sirkulasi haid
3)      Lamanya haid
4)      Banyaknya darah haid
5)      Nyeri
6)      Haid terakhir
h.      Riwayat perkawinan
1)      Status perkawinan
2)      Kawin pertama
3)      Lama kawin
  1. Data Objektif
Pemeriksaan fisik
a.       Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
1)      Rambut dan kulit
a)      Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b)      Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c)      Laju pertumbuhan rambut berkurang.
2)      Wajah
a)      Mata : pucat, anemis
b)      Hidung
c)      Gigi dan mulut
3)      Leher
4)      Buah dada / payudara
a)      Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b)      Bertambahnya ukuran dan noduler
5)      Jantung dan paru
a)      Volume darah meningkat
b)      Peningkatan frekuensi nadi
c)      Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
d)     Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e)      Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
f)       Diafragma meningga.
g)      Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

6)      Abdomen
Palpasi abdomen :
a)      Menentukan letak janin
b)      Menentukan tinggi fundus uteri
7)      Vagina
a)      Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick )
b)      Hipertropi epithelium
8)      System musculoskeletal
a)      Persendian tulang pinggul yang mengendur
b)      Gaya berjalan yang canggung
c)      Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal

  1. Khusus
a.       Tinggi fundus uteri
b.      Posisi dan persentasi janin
c.       Panggul dan janin lahir
d.      Denyut jantung janin
  1. Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan inspekulo
b.      Pemeriksaan radio isotopic
c.       Ultrasonografi
d.      Pemeriksaan dalam

I.         Diagnosa Keperawatan:
  1. Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
  2. Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan terlepasnya placenta.
  3. Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
  4. Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
  5. Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah.

J.        Intervensi:
1.      Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Kaji tentang banyaknya pengeluaran caiaran (perdarahan).
b.      Observasi tanda-tanda vital.
c.       Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
d.      Pantau kadar elektrolit darah.
e.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
f.       Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.
g.      Kolaborasi dengan dokter sehubungan dengan letak placenta.

2.      Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan terlepasnya placenta.
a.       Observasi tanda-tanda vital.
b.      Monitor perdarahan dan status janin.
c.       Pertahankan hidrasi.
d.      Pertahankan tirah baring.
e.       Persiapkan untuk section caesaria .
3.      Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Observasi tanda-tanda terjadinya shock hipolemik.
b.      Kaji tentang banyaknya pengeluaran cairan (perdarahan).
c.       Observasi tanda-tanda vital.
d.      Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
e.       Pantau kadar elektrolit darah.
f.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
g.      Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.

4.      Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
a.       Berikan penjelasan tentang pentingnya personal hygiene
b.      Berikan motivasi untuk tetap menjaga personal hygiene tanpa melakukan aktivitas yang berlebihan
c.       Beri sarana penunjang atau mandikan klien bila klien masih harus bedrest
5.      Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah..
a.       Beri dukungan dan pendidikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan pemahaman dan kerja sama dengan tetap memberikan informasi tentang status janin, mendengar dengan penuh perhatian, mempertahankan kontak mata dan berkomunikasi dengan tenang, hangat dan empati yang tepat.
b.      Pertahankan hubungan saling percaya dengan komunikasi terbuka. Hubungan rasa saling percaya terjalin antara perawat dan klien akan membuat klien mudah mengungkapkan perasaannya dan mau bekerja sama.
c.       Jelaskan tentang proses perawatan dan prognosa penyakit secara bertahap. Dengan mengerti tentang proses perawatan dan prognosa penyakit akan memberikan rasa tenang.


DAFTAR PUSTAKA

 
 

Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset.
Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka
Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika
Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC
Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi
Jakarta : EGC
Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yayasan
Esentia Medika
Heller, Luz 1991. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC




PERAWAT Malaikat Tak Bersayap

apakabar sahabat ikhlasku hari ini, saya belajar dari porfesi yang sangat mulia. PERAWAT   saya tahu diantara dari mereka memilih pro...